Cinta Kereta Api

Cinta Kereta Api

Siang ini begitu panas . Jendela kereta yang kunaiki tertembus sinar mentari yang terik . Di perjalanan , kejenuhan yang sangat spektakuler menderaku . Tapi rasa itu seketika hilang ketika lelaki ganteng yang sedang tertidur di sebelahku memindahkan posisi tidurnya yang ya ampuuuuuuuuuuuuuun gantengnya . Aku menatapnya tajam sambil membayangkan aku bisa berkenalan dengannya disana . Tapi sepertinya tidak mungkin , karena dari setengah jam yang lalu perjalanan ini dia hanya tertidur . Kelihatannya lelah sekali lelaki tampan ini . Tapi di tengah lamunanku dia terbangun , “ Kenapa mba ? Kok ngeliatin saya ? Ada yang aneh ? “ . Dag dig dug jantungku , “ Nggak papa lagi mas . Cuma perasaan mas aja kali “ jawabku terbata . Huh , alasan paling standar dipikiranku keluar tiba – tiba . “ Oh dikira mba suka sama saya . Darimana mau kemana mba ? “ . “ Mba ??? “ Dalam hatiku bergumam . “ Aduh permisi ya , jangan panggil mba . Panggil aku Quin , namaku itu Quinsha mas bukan mba “ . “ Quinsha nama yang bagus . Jangan panggil mas juga dong , panggil aja Tissar ! “ . “ Terima kasih udah dibilang bagus . Tissar juga nama yang bagus kok . Aku dari rumah nenekku di Cirebon dan sekarang mau pulang ke Jakarta . Kata ibuku nenekku sakit tapi kok pas aku datang kesana kenapa nenekku baik-baik saja ya . Eh , maaf aku jadi curhat colongan gini . Lagian juga hari senin aku udah masuk kuliah “ . “ Klo kamu Sar ? “ . “ Aku mau ke Jakarta juga . Cirebon sebenarnya indah tapi deadline tugas skripsi tuh ga bisa diajak kompromi “ . “ Oh , kamu kuliah . Sama dong berarti sama aku “ . “ Yoha “ . Obrolan seru yang baik mengawali obrolan kami berdua . Senaaaaaaaang sekali . Mudah-mudahan ini adalah jalan yang terbuka lebar sehingga aku bisa lebih mengenalnya lagi .


Setelah setengah jam kita berbincang , akhirnya kita putuskan untuk pindah ke cafetaria . Menikmati segelas kopi sambil lanjut berbicara . Dia bercerita bahwa dia berasal dari Keluarga Subrata . Hah , aku kaget mendengar dia berkata seperti itu . Apa mungkin dia adalah anak teman ayahku yang dulu pernah di ceritakan padaku . Keluarga Subrata , pengusaha terkenal di lantai bursa saham di Jakarta . Dan dia adalah kolega ayahku . Mengingat nama Subrata , aku langsung teringat kata-kata ibuku tentang laki-laki yang akan ayah jodohkan denganku nanti . Anak tertua dari Keluarga Subrata akan dinikahkan dengan anak bungsu Keluarga Mahendra . Dan anak bungsu itu adalah aku . Quinsha Mahendra . Apakah ini akan menjadi awal penderitaanku menjadi anak bungsu Keluarga Mahendra atau malah kebahagiaanku menjadi anak bungsu Keluarga Mahendra . Aku tidak tahu . Rasanya aku ingin bertanya pada Tissar namun aku tidak berani bertanya tentang masalah apakah dia dijodohkan oleh orangtuanya . Aku hanya berharap benar ini adalah keluarga Subrata yang ayah dan ibu maksut dan aku berharap pula Tissarlah anak pertama itu . Dan yang akan menjadi calon suamiku kelak . Amin .

Akhirnya sampailah kami berdua di Stasiun Gambir . Sesak orang disana , tetapi dengan santai Tissar menggandengku keluar . Sampai di pelataran stasiun , aku masih tetap menunggu . Menunggu ayahku yang akan menjemputku . “ Kamu nunggu dijemput ? “ . “ Iya . Kamu juga ? “ . “ Susahnya jika jadi anak pertama kesayangan ayah . Jadilah aku harus menunggu dijemput seperti anak bayi . “ . “ Anak pertama ? Tissar anak pertama ? “ Kagetku dalam hati . Berarti Tissar adalah calon suamiku . Mengapa dia tidak menyadari bahwa aku adalah calon istrinya ya ? Aduh , kenapa aku berharap besar sekali Tissar adalah calon suamiku ? Mungkin saja aku salah . Benar-benar aku ini kegeeran sekali . Tapi sekarang rasa senang bercampur bingung berenang di dalam hatiku kini , memikirkan apa ini benar terjadi kepadaku ? .

Sambil menunggu , Tissar pun bercerita bahwa dia sedang mencari calon istri untuknya . Karena ayahnya yang katanya galak memaksanya untuk segera bertunangan dan menikah agar harta keluarganya tidak jatuh ke siapa-siapa kecuali Tissar . Dan ayahnya pun mempunyai niat untuk menjodohkannya . Aduh , apa sebenarnya yang terjadi . Ini bukan yang sesuai dengan cerita ibuku . Orangtuanya saja baru mau punya niat , bukan sudah menjodohkan anaknya dengan anak kolega ayahnya . Mungkin benar Tissar bukan anak pertama dari Keluarga Subrata yang ibu maksut . Dan benar saja aku hanya kegeeran tentang Tissar .

Setelah 25 menit menunggu di stasiun dengan cemas , akhirnya ayahku datang bersama .. Pak Subrata ? Apa-apaan ini ? Ibuku dan Bu Subrata pun turut mengekor dibelakangnya . Memang aku sudah bertemu dengan mereka pada saat acara perusahaan ayah dua minggu yang lalu . Dan setelah acara itu ibuku bercerita tenang perjodohan itu . Namun tiba-tiba , “ Quin , maaf ya . Selama beberapa hari kamu di Cirebon aku udah ngikutin kemana aja kamu pergi . Set tempat duduk dan rencana penjemputan ini pun sudah kususun dengan rapi bersama orangtua kita “ . “ Hah ? Aku ga ngerti kamu ngomong apa “ . “ Quin , kamu pasti sudah berpikir sejak pertama kali aku menyebutkan nama keluargaku bahwa sebenarnya kau calon istriku dan kamu pun bingung mengapa aku tidak menyadarinya . Aku hanya berpura-pura , Quin . Dan nanti setelah kamu lulus kuliah dan melanjutkan kuliah S2 mu keluar negeri kita akan bertunangan “ . “ Iya Quin . Tante dan om pun sudah menyusun semuanya . Sebelum Tissar melanjutkan S3nya bersamamu kalian akan bertunangan “ . “ Kenapa kalian melakukan ini padaku ? Apa salahku ? “ . “ Kamu tidak salah sama sekali . Aku melakukan ini karna aku mau tahu seberapa baiknya hatimu lewat rencana yang aku susun . Dan ternyata kamu memang memiliki pribadi yang baik , manis dan menyenangkan . Aku sangat senang melakukan rencana ini . Maaf ya sebelumnya atas perlakuanku ke kamu . Aku melakukan ini semata-mata hanya ingin yang terbaik untuk kita dan semua ini karena aku cinta kamu “ . “ Kalian ini mengerjaiku . Ini lagi bunda , nyuruh Quin kerumah nenek yang bunda bilang sakit padahal nenek sehat walafiat aja . Gitu ? Agar rencana kalian ini berlangsung lancar selancar-lancarnya kan ? “ . “ Iya sayang . Maafin kami ya . Tapi pastinya kamu senangkan ? “ . Aaah , kesal rasanya di hatiku namun bercampur senang . Akhirnya pun aku digandeng pulang bersama Tissar dan kedua orangtua kami . Sebelum pulang kami masih sempat berbincang melanjutkan perdebatan ini di mobil . “ Aku malu tahu sama semuanya “ . “ Tapi kamu sayang aku kan ? “ . Kujawab hanya dengan tersenyum manis . “ Jadi sekarang kita resmi pacaran kan sayang ? “ . Aku pun hanya menjawab pertanyaan itu dengan jurus senyum paling manis dariku .

Setelah 3 tahun kejadian itu berlangsung , hari ini tepatnya . Hari ini hari pertunangan kami berdua . Karena besok kami berdua akan berangkat ke Australia untuk melanjutkan sekolah S2 dan S3 kami . Adat Jawa pun menjadi tema pertunangan kami . Baru tunangan saja , ayah dan ibuku juga ayah dan ibu Tissar telah mengundang banyak kolega mereka . Belum teman-temanku , keluargaku yang lain , keluarga Tissar , teman-teman kakakku dan teman-teman Tissar . Inilah konsekuensi yang harus ditanggung orangtua kami dengan tuntutan pekerjaannya . Hubungan kami telah dikukuhkan dengan cincin pertunangan . Kata ibuku setelah kami berdua lulus dan melanjutkan usaha keluarga kami berdua , kami akan menikah . Tapi itu masih lama sekali . 4 tahun lagi . Tapi kami akan sabar menunggu hingga 4 tahun . Namun jika begitu kenyataannya kami akan terus bersama . Karena kami kuliah di universitas yang sama di Australia . Ini adalah rencana keluarga kami berdua agar kami tetap lengket seperti perangko . Mudah-mudahan saja kami tidak bosan .

Tissar , cinta kita berdua , bagaikan cerita fiksi rekaan namun ini terjadi . Dan cinta kita di kereta api beberapa tahun lalu adalah saksi pengukuhan cinta kita . Terima Kasih untuk tahun – tahun kesabaranmu . 4 tahun adalah waktu yang sesaat , tinggal kita tempuh bersama agar kita dapat hidup bersama . Amin .

Terima kasih ayah , telah menjodohkanku dengan Tissar . Terima kasih ibu , telah menceritakan tentang perjodohan ini kepadaku . Terima kasih om dan tante Subrata , telah berencana dengan orangtuaku untuk mengadakan perjodohan yang aneh namun menyenangkan ini . Dan yang terakhir , terima kasih Tissar , atas cintamu selama ini ... Aku sayang kamu ......








0 comments:



Post a Comment