Menjadi diriku adalah suatu hal yang sangat berharga . Aku senang hidup di dunia ini . Aku , seorang gadis biasa yang diberikan anugerah nama yang sungguh indah dari ayah dan ibuku , Shanandra Lestryna . Walaupun aku tak pernah tahu arti namaku yang sebenarnya siapa , tetapi aku yakin almarhum ayah dan ibuku yang telah meninggalkanku 10 tahun yang lalu memiliki doa yang terbaik untukku . Nenek , satu-satunya orang yang paling berharga untukku di dunia ini , hanya nenek orangtuaku . Aku sangat bahagia karena hidupku telah diisi oleh orang-orang baik hati . Aku ingin berbagi kepada orang lain . Karena untukku , hidupku itu sungguh berwarna .
Aku hanya dapat bercerita diselembar kertas ini . Aku menulis ini karena dua laki-laki yang baik hati datang dihidupku . Lelaki baik hati , tidak sombong , lucu namun ceplas ceplos yang kukenal semenjak diriku kecil itu bernama Dimas . Dan lelaki baik hati , manis , perhatian , lembut dan baru kukenal saat aku bersekolah di sekolah Harapan Negeri ini , dia bernama Ryan . Aku dan Ryan adalah teman satu sekolah . Dia teman sekelasku . Dia selalu membantuku saatku membutuhkan bantuannya . Dikala saat dibutuhkan sekali atau tidak penting sama sekali . Namun , Dimas pun baik terhadapku . Aku hampir mengenalnya sebagai sahabat . Karena ketika ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan , dialah yang selalu menghiburku dikala aku dirundung duka mendalam karena kehilangan kedua orangtuaku . Dia memberikanku semangat besar . Agar aku terbangun dari keterpurukan masa kecil yang sangat kelam . Memang dulu diumurku yang menginjak 7 tahun , ayah dan ibu adalah tumpuan hidupku satu-satunya di dunia ini . Sayangnya , ayah dan ibu belum mengenal orang yang baik dalam hidupku seperti Dimas dan Ryan . Tetapi mereka tetap baik padaku walaupun mereka tahu aku yatim piatu dan hanya gadis biasa saja .
Aku akan bercerita tentang Ryan Pranggadita . Dia adalah laki-laki spesial dihidupku . Karena hanya dialah kawanku di sekolah . Karena kondisi ekonomiku yang dibawah rata-rata namun aku mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sekolah terbaik di kotaku , membuatku tak ada yang menemani . Namun Ryan mau menjadi orang pertama yang menjadi temanku dan satu-satunya temanku . Mengapa aku menyebutkan nama Ryan dahulu , karena walaupun aku baru saja mengenal Ryan namun dia adalah cinta pertamaku . Aku jatuh cinta padanya , aku mulai mencintainya saat dia datang ketika aku sakit , selalu membantuku di sekolah dan selalu menghapus airmataku ketika aku teringat ayah dan ibu .
Namun , ketika aku baru tersadar atas perasaan hatiku terhadap Ryan , nama Dimas Anggara mendominasi perasaan dihatiku ini . Dimas adalah orang paling baik sebenarnya di hidupku setelah nenek . Karena dia adalah sahabatku sekaligus orang yang kusayang . Dimas adalah temanku yang baik yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri . Walaupun kami tidak bersekolah di tempat yang sama namun aku tahu sebenarnya dia tak mau jauh dariku , dia selalu ingin menjagaku . Maka dari itu , setiap pulang sekolah aku selalu dijemput pulang olehnya . Saat kutanya mengapa dia mau menjemputku setiap hari , dia hanya menjawab agar aku aman tanpa diganggu siapa pun . Alasan yang dilontarkan Dimas selalu membuatku berbunga walaupun terkadang dia suka berucap canda yang ceplas ceplos . Tapi aku suka karena pada saat itulah aku dapat tertawa .
Lima hari yang lalu , Ryan berinisiatif mengantarkanku pulang . Karena hujan deras dan dia membawa mobil . Aku pun menyetujui permintaan Ryan yang dengan sumringah menanggapi persetujuanku itu . Sepulang sekolah dalam keadaan hujan deras , kami berdua langsung menaiki mobil Ryan dan bergegas pergi dari sekolah . Namun perasaan di hatiku seperti ada yang mengganjal . Aku berpikir sepanjang perjalanan pulang . Tetapi tetap tidak menemukan solusinya . Perlahan aku pun melupakan perasaan yang mengganjalku . Tiba-tiba mobil yang dikendarai Ryan berhenti di tengah jalan sepi disamping taman dekat rumahku . Ryan menyatakan cintanya padaku dan berharap aku pun menerima cintanya . Tetapi saat aku ingin mengucapkan jawabanku tiba-tiba terlintas sesuatu yang mengganjalku selama perjalanan pulang ini . Dimas , dia pasti menjemputku di sekolah walaupun hujan deras . Aku khawatir dengannya . Di hujan deras dan dengan sepeda miliknya dia pasti menjemputku . Dan saat aku belum keluar dari sekolah dan menemuinya , dia pasti akan menungguku . Tanpa berpikir dan menjawab pertanyaan Ryan , aku segera turun dari mobil Ryan dan berlari secepatnya menuju sekolah . Tak kusangka , Dimas tak ada disana . Langsung saja aku bertanya kepada penjaga sekolah apakah ada lelaki yang menunggu disini ditengah hujan . Dan benar saja , penjaga sekolah mengatakan bahwa ada seorang lelaki telah menunggu selama setengah jam di bawah hujan deras tanpa berteduh . Dan itu pasti Dimas . Saat penjaga sekolah menawarkan untuk berteduh , dia menolak . Dia berkata bahwa ini adalah balasan atas kesalahannya yang sudah terlambat menjemput seseorang . Aku pun meneteskan air mata pada saat itu juga . Begitu jahatnya aku terhadap Dimas sampai-sampai aku melupakannya . Dengan derai airmata penyesalan , aku pun pulang ke rumah dengan tertatih .
Sewaktu aku berjalan menuju rumah sakit , aku bertemu dengan Ryan . Dia mengajakku ikut dengannya . Dan akupun menuju rumah sakit bersama Ryan . Sesampainya aku di rumah sakit , aku melihat Dimas terbaring lemah tanpa daya di tempat tidur dengan oksigen di hidung juga alat deteksi detak jantung didadanya . Dia belum sadarkan diri . Akupun memberanikan diri untuk mendekatinya . Aku meminta maaf dengan membisikkan ke telinganya . Aku tak tahu dia mendengarku atau tidak . Yang jelas dengan tulus hati akupun terus membisikkan kata maaf di telinganya . Hari ketiga Dimas belum juga sadar . Semakin besar penyesalan dihatiku . Hari keempat Dimas dirumah sakit , aku dan Ryan tetap dengan setia menungguinya hingga dia sadar menggantikan ibunya Dimas . Pada saat aku membisikkan kata maafku untuk kesekian kali di telinganya , matanya mengeluarkan airmata dan menggerakkan jari tangannya . Akupun kaget lalu dengan cepat menggenggam tangannya seraya membisikkan kata-kata agar dia terbangun . Dia pun terbangun dan melihat selain aku ada Ryan pula disampingku . Dengan lirih , Dimas berkata padaku bahwa dia menyayangiku sejak 10 tahun yang lalu , ketika aku menangis di pinggir jalan beberapa jam setelah pemakaman ayah dan ibu . Namun , Dimas tidak berani mengatakan hal ini padaku karena dia masih menghormatiku sebagai teman baiknya . Dan dia pun berpesan pada Ryan agar dia menggantikan posisi Dimas untuk menjagaku . Setelah dia mengatakan hal itu , nafas Dimas menjadi terpatah-patah . Aku langsung memanggil dokter dan ibu Dimas yang sedang berbincang dengan dokter . Secepatnya dokter memeriksa keadaan Dimas . Aku , Ryan dan ibu Dimas hanya dapat menunggu diluar sembari berdoa . Aku pun terduduk di depan kamar Dimas sambil menangis mengharapkan tidak terjadi apapun pada Dimas . Sekarang jam tanganku menunjukkan pukul 23.55 , sudah setengah jam dokter memeriksa di dalam . Tiba-tiba alarm jam tanganku berbunyi , menunjukkan pukul 00.00 . Dan akupun terperangah , ketika dokter keluar dengan wajah pasrah dan mengucapkan maaf kepada kami semua . Dimas tidak dapat tertolong lagi . Ibunda Dimas langsung berteriak memanggil nama Dimas dan pingsan , secepatnya ibunda Dimas dibawa menuju ruang periksa . Aku pun terduduk keras ke lantai karena kakiku lemas tak berdaya . Ryan memelukku dengan erat dan aku tak sengaja melihat kalender yang terpasang di depan kamar Dimas dan aku menangis lebih histeris karena aku tahu bahwa sekarang adalah tanggal 14 Juni 2009 . Karena tanggal itu adalah tepat tanggal dimana ayah dan ibu meninggalkanku untuk selamanya 10 tahun lalu . Aku berteriak menjadi . Aku berteriak menyebut nama Dimas . Dan berlari kejalanan , saat itu hujan turun rintik lalu perlahan deras . Dunia seperti tahu bagaimana sedihnya perasaanku dan aku menangis dan berteriak memanggil nama Dimas di tengah hujan . Pandanganku kabur , namun aku merasa ada yang mendekapku dari belakang dan aku pun pingsan tak sadarkan diri .
Jadi , pertanyaan dihatiku tentang ‘Cintaku Untuk Siapa ?’ itu sudah tak ada lagi . Sekarang aku sudah berjanji dalam hati bahwa selamanya cinta sejatiku hanya untuk DIMAS ANGGARA . Dan akupun akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar manyayangi RYAN PRANGGADITA , kekasihku . Dan aku , SHANANDRA LESTRYNA berjanji akan selalu menjaga nenek dan ibunda Dimas untuk ayah , ibu juga Dimas di surga dan tak lupa akan membuat hidupku lebih berwarna lagi seperti PELANGI ...
cintaku untuk siapa ?
Labels:
Cerpen :)
- Wednesday, March 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)













.jpg)







1 comments:
bagus ceritanya...
Post a Comment